Gempuran AS-Israel Tak Mempan, Iran Pastikan Kemampuan Nuklir dan Rudal Tetap Utuh
VISIONESIA.COM - Anggota Dewan Penjaga dan Majelis Pakar Iran Ayatolah Ahmad Khatami menegaskan bahwa Amerika Serikat telah gagal menghancurkan kemampuan rudal negaranya. Kegagalan tersebut, menurutnya, akan terus mempermalukan Washington.
“Musuh ingin mengembalikan Iran ke zaman Batu, tetapi hari ini dunia telah menyadari bahwa pemerintah Amerika sendiri tidak tahu apa-apa tentang peradaban dan demokrasi, dan pada kenyataannya, justru Amerika yang menunjukkan perilaku yang berasal dari era masa lalu,” kata Ahmad Khatami kepada TV pemerintah Iran seperti dilansir dari Al Jazeera, Jumat (14/8/2026).
Meski AS dan Israel menggempur fasilitas nuklirnya, kemampuan nuklir Iran dipastikan tetap bertahan. “Tenaga nuklir kami adalah milik para ilmuwan negara ini dan pengetahuan nuklir kami," ujar ulama senior Iran itu.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah mengeluarkan ancaman untuk mengebom dan mengembalikan Iran ke zaman batu pada awal April 2026 di tengah eskalasi konflik militer antara kedua negara.
Beberapa hari setelah pernyataan kontroversial tersebut, Trump akhirnya menarik dan menunda ancaman pengeboman masif itu dengan syarat Teheran menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dan membuka kembali Selat Hormuz.
Pemerintah Iran melalui perwakilannya di PBB membalas ancaman tersebut dengan sindiran satir. Mereka menegaskan bahwa Iran adalah peradaban tua yang telah berusia lebih dari 7.000 tahun, jauh lebih lama dibandingkan usia Amerika Serikat yang baru sekitar 250 tahun.
Militer Iran menyatakan tidak gentar dan bersumpah akan memberikan respons balik yang menghancurkan, termasuk sempat menembak jatuh jet tempur AS.
Setelah melewati fase kritis, pada pertengahan Juni 2026, Trump mengonfirmasi bahwa AS dan Iran akhirnya berhasil mencapai kesepakatan damai yang dimediasi oleh Pakistan. AS juga mencabut sebagian sanksi minyak agar dananya dapat digunakan Iran untuk membeli pasokan makanan.
Namun, kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran yang ditandatangani pada Juni 2026 kini telah runtuh sepenuhnya, memicu kembali kebuntuan diplomatik dan eskalasi militer yang intens hingga Agustus 2026.
Hubungan kedua negara kembali memanas setelah masing-masing pihak saling menuduh melanggar poin-poin krusial dalam perjanjian antara Presiden Donald Trump dan Presiden Masoud Pezeshkian tersebut.(dar)
