Investasi Hulu Migas Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Pemerataan Pembangunan Daerah
VISIONESIA.COM - Investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) tidak hanya berperan dalam menjaga ketahanan energi nasional, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan daerah.
Setiap investasi sebesar USD1 miliar di sektor migas berpotensi menghasilkan tambahan output ekonomi hingga USD1,5 miliar serta menciptakan sekitar 49 ribu peluang kerja. Besarnya dampak berganda (multiplier effect) tersebut menunjukkan bahwa aktivitas hulu migas memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional maupun daerah.
Chief Economist Bank Mandiri Andri Asmoro menyampaikan hal tersebut dalam Plenary Session 3 Forum Ekonomi (FOREK) Hulu Migas 2026 bertema “Peran Kemitraan dalam Mendukung Iklim Investasi Hulu Migas” di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Menurutnya, dampak investasi hulu migas tidak berhenti pada kegiatan eksplorasi dan produksi. Aktivitas industri ini turut menggerakkan rantai pasok, mulai dari kontraktor, pemasok alat berat, perusahaan logistik, hingga berbagai penyedia jasa pendukung.
Dengan demikian, investasi hulu migas berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi yang lebih luas di wilayah operasi, termasuk membuka peluang usaha bagi pelaku industri lokal dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
Untuk memaksimalkan dampak tersebut, dukungan pembiayaan menjadi salah satu faktor penting. Perbankan tidak hanya berperan dalam membiayai perusahaan pemegang kontrak, tetapi juga dapat memperluas akses pendanaan bagi vendor dan kontraktor yang terlibat dalam pelaksanaan proyek.
Andri menjelaskan, sektor perbankan dapat menyediakan berbagai fasilitas pembiayaan, mulai dari modal kerja, pembiayaan proyek jangka panjang, hingga pembiayaan bagi vendor yang telah memperoleh pekerjaan dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).
Fasilitas tersebut memungkinkan vendor menjalankan pekerjaan di lapangan tanpa harus selalu menunggu pembayaran dari pemilik proyek. Skema pembiayaan ini sekaligus membantu menjaga kelancaran operasional dan memperkuat keterlibatan perusahaan nasional dalam rantai pasok hulu migas.
Investasi di sektor pertambangan, termasuk migas, juga berpotensi memperkuat pemerataan ekonomi antardaerah, khususnya di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Dampaknya dapat terlihat melalui pertumbuhan industri pendukung, pembangunan akses jalan, penyediaan fasilitas listrik, serta meningkatnya permintaan terhadap barang dan jasa lokal.
“Investasi yang lebih besar dapat memperkecil kesenjangan antara wilayah timur dan barat Indonesia,” ucap Andri.
Dari sisi regulator, Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Ricky Rahmat Firdaus menekankan pentingnya pembagian peran antarpemangku kepentingan dalam membangun ekosistem investasi yang kuat.
Pemerintah bertugas menyelaraskan kebijakan dan memberikan kepastian kontrak, sementara investor menyediakan modal dan teknologi. Lembaga keuangan mendukung pembiayaan proyek, industri nasional memperkuat rantai pasok, dan pemerintah daerah berperan dalam perizinan, akses lahan, serta membangun penerimaan masyarakat.
Kolaborasi tersebut dinilai krusial mengingat proyek hulu migas memiliki karakteristik investasi besar, risiko tinggi, dan periode pengembangan yang panjang. Hambatan perizinan, keterlambatan proyek, maupun gangguan operasional dapat memengaruhi keekonomian investasi sekaligus mengurangi manfaat ekonomi yang dihasilkan.
Chief Executive Officer (CEO) Searah Ketapang, Yuzaini Md Yusof menegaskan bahwa investor membutuhkan dukungan berbagai pihak agar proyek dapat berjalan optimal.
“Kami sebagai investor tidak bisa melakukannya sendiri. Kami membutuhkan dukungan pemerintah, masyarakat lokal, mitra bisnis strategis, dan para kontraktor,” ujarnya.
Kemitraan menjadi salah satu faktor penentu dalam meningkatkan daya tarik investasi hulu migas jangka panjang, selain kepastian hukum, daya saing fiskal, fleksibilitas komersial, dan kemudahan berusaha.
Managing Director sekaligus Head of Project Finance MUFG, Saumitra Srivastava menilai Indonesia memiliki peluang strategis untuk memperkuat posisinya sebagai pemasok gas di kawasan Asia, seiring meningkatnya kebutuhan energi dan pertumbuhan ekonomi regional.
Menurutnya, besarnya cadangan gas, aktivitas eksplorasi dan produksi yang terus berjalan, serta status Indonesia sebagai negara dengan peringkat layak investasi menjadi modal penting untuk menarik pendanaan internasional.
“Indonesia akan tetap menjadi pemasok gas yang penting dalam jangka panjang,” ungkap Saumitra.
Berdasarkan kajian MUFG, Indonesia dan Malaysia diperkirakan menjadi dua negara yang memimpin siklus investasi hulu migas di kawasan Asia, dengan nilai investasi yang diproyeksikan mencapai lebih dari USD100 miliar.
Khusus Indonesia, MUFG telah mengidentifikasi 14 transaksi atau proyek yang mencapai keputusan investasi final (Final Investment Decision/FID). Saumitra menyebut masih terdapat sejumlah proyek lain yang berpotensi menyusul.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi salah satu penerima manfaat utama dari gelombang investasi hulu migas berikutnya, sekaligus memperkuat ketahanan energi, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan memperluas manfaat pembangunan bagi masyarakat di berbagai daerah.(dar)
