Pakar Ingatkan Bahaya Digital Grooming Berkedok Grup WA Anak
VISIONESIA.COM - Satu undangan grup WhatsApp (WA) membuka dugaan praktik digital grooming (upaya membangun kedekatan dan kepercayaan dengan anak melalui ruang digital untuk kemudian memanipulasi atau mengeksploitasinya) yang menyasar anak-anak. Seorang ayah tak sengaja masuk ke grup WA yang diduga bernuansa LGBTQ setelah diundang oleh anaknya. Temuan itu kemudian viral di media sosial dan kini masih dalam penyelidikan aparat.
Direktur Eksekutif Siber Sehat Indonesia, Ibnu Dwi Cahyo, menilai pola tersebut tidak bisa dilihat sekadar sebagai aktivitas mengundang pengguna secara acak. Menurutnya, terdapat kemungkinan social engineering yang sengaja dirancang untuk memperluas anggota grup.
“Dari nama grup saja, itu sudah seperti ajakan kepada para member untuk mengajak teman-teman dan orang yang dikenal untuk masuk grup,” ujar Ibnu melalui gawai, Jumat (4/9/2026).
Ibnu mengatakan, persoalan menjadi lebih serius ketika sasaran grup diduga merupakan anak-anak. Ia meminta aparat kepolisian mengusut lebih dalam dugaan digital grooming yang terjadi di dalam grup tersebut.
“Yang paling berbahaya kemungkinan digital grooming yang dilakukan oleh para pembuat grup, karena yang disasar adalah anak-anak. Untuk ini aparat kepolisian perlu melakukan penyelidikan lebih dalam,” sambungnya.
Kekhawatiran itu muncul setelah orang tua salah satu anggota menemukan riwayat percakapan yang memuat pertanyaan mengenai orientasi seksual serta sejumlah stiker yang mengarah pada orientasi seksual.
“Kalau merujuk pada keterangan ayah salah satu member grup, konten pertanyaan dan stiker ini memang mengarah pada tindakan digital grooming. Grup tersebut melakukan targeting anggota grup yang sebagian besar adalah siswa SD dan SMP, seperti disampaikan oleh ayah anak member grup WA tersebut,” jelas Ibnu.
Menurut Ibnu, mengundang nomor secara acak ke dalam grup memang bukan teknik baru. Praktik spamming semacam itu dapat dilakukan untuk berbagai kepentingan, termasuk perdagangan maupun kejahatan. Namun, ketika targetnya secara spesifik adalah siswa SD dan SMP, pola tersebut patut dicermati.
“Targeting anak-anak SD SMP masuk ke grup WA, dibutuhkan data-data spesifik. Misalnya nomor anak-anak tersebut, lalu social engineering dilakukan mengajak para member tersebut memasukkan teman-temannya yang lain. Dalam kejadian ini, seorang anak secara tidak sengaja memasukkan ayahnya ke dalam grup dan akhirnya viral keberadaan grup tersebut,” ungkap pria yang juga berprofesi sebagai advokat ini.
Karena itu, pengawasan orang tua menjadi lapisan pertahanan penting. Ibnu menyarankan orang tua memiliki akses untuk memeriksa ponsel anak secara berkala, termasuk konten yang dikonsumsi dan pihak yang berkomunikasi dengan mereka.
“Orang tua umunya kalah mahir dibanding anak-anak gen Alpha yang native digital sejak lahir. Orang tua dan guru di sekolah perlu didorong untuk lebih mahir dalam menguasai ponsel pintar, sehingga bisa melakukan langkah preventif, seperti mengaktifkan parental control dan membatasi akses mengundang masuk grup WA,” tegasnya.
Selain WA, Ibnu mengingatkan bahwa berbagai platform digital lain juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan konten seksual berbahaya. Karena itu, literasi digital bagi orang tua dan guru dinilai tidak lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi kebutuhan untuk melindungi anak di ruang digital.
“Aplikasi selain WA, banyak juga yang dijadikan perantara penyebaran LGBTQ dan juga pornografi. Misalnya X (twitter) kini menjadi platform penyebaran pornografi dan aktivitas seksual berbahaya. Telegram, discord, threads dan aplikasi lain juga sangat bisa dijadikan media penyebaran kegiatan berbahaya tersebut. Karena itu pendekatan kultural, dengan mendorong kemahiran orang tua dan guru sangat penting untuk didorong oleh negara dan elemen masyarakat,” tambahnya.(dar)
