Minggu, 08 Nov 2026 NasionalInternasionalEkonomi & BisnisMegapolitanGaya Hidup
Beranda › Nasional
Nasional

Daur Ulang Limbah Batik Jadi Briket, Mahasiswa UIN Ponorogo Gagas Eco-Retox di OASE III 2026

✍️ Admin 🕒 08 Nov 2026 👁️ 3x dibaca
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo pengembang Eco-Retox.
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo pengembang Eco-Retox. Foto: Dok Kemenag

VISIONESIA.COM - Sejumlah inovasi di bidang ekoteologi tampil di ajang Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) 2026. Berbagai gagasan kreatif tersebut mulai dari pengolahan limbah industri hingga pemanfaatan teknologi digital.

Salah satu inovasi ekoteologi yang mendukung ekonomi sirkular tersebut datang dari mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Mereka mengembangkan Eco-Retox atau Ekoteologi Reduksi Limbah Tekstil, sebuah sistem filtrasi limbah batik berbasis biomassa lokal yang dilanjutkan dengan pengolahan biomassa bekas menjadi briket.

Inovasi tersebut dipresentasikan dalam cabang lomba Ekoteologi: Tata Kelola Limbah dan Lingkungan Hidup yang berlangsung di Teatrikal Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga.

Tim pengembang Eco-Retox terdiri dari Indra Tri Rahayu, Rehan Putra Candra, Siti Mas Ayu Miftahurrohmah, Aliyya Safira Kahla, dan Elza Cahyaning Maharani. Mereka berupaya menawarkan solusi atas persoalan limbah produksi batik yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola secara tepat.

Menurut mereka, batik sebagai warisan budaya sekaligus sumber penghidupan masyarakat harus didukung dengan proses produksi yang memperhatikan kelestarian lingkungan. Karena itu, pengolahan limbah menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keberlanjutan industri batik.

Salah satu anggota tim, Elza Cahyaning Maharani menjelaskan, ECO-RETOX memanfaatkan biomassa lokal sebagai bahan filtrasi limbah. Setelah digunakan, biomassa tersebut tidak langsung dibuang, melainkan diolah kembali menjadi briket sehingga memiliki nilai guna lanjutan.

“Biomassa lokal dimanfaatkan sebagai bahan filtrasi. Setelah digunakan, biomassa tersebut diolah kembali menjadi briket. Dengan rancangan itu, mereka berupaya memperpanjang pemanfaatan bahan dan mengurangi sisa yang terbuang,” ungkap Elza dalam keterangan, Minggu (8/11/2026).

Anggota tim lainnya, Indra Tri Rahayu menuturkan, inovasi tersebut tidak sekadar mengedepankan aspek teknologi, tetapi juga berangkat dari nilai-nilai ekoteologi Islam. Di antaranya konsep khalifah dan amanah, anti-fasad atau larangan berbuat kerusakan, serta anti-israf yang mengajarkan manusia untuk tidak menyia-nyiakan sumber daya.

Nilai-nilai keagamaan itu kemudian diterjemahkan ke dalam praktik pengelolaan lingkungan. Manusia sebagai khalifah di bumi memiliki tanggung jawab menjaga kelestarian alam, termasuk mengurangi pencemaran dan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia.

Sebelum tampil di babak presentasi final, kelima mahasiswa tersebut telah melalui serangkaian tahapan pengembangan. Mulai dari eksplorasi bahan, uji coba produk, pengujian, hingga penyusunan hasil penelitian dalam bentuk karya tulis.

Aliyya Safira Kahla mengatakan, timnya masih berencana menyempurnakan inovasi tersebut agar dapat diterapkan dalam skala yang lebih luas, termasuk untuk kebutuhan industri.

“Kami akan menyempurnakan Eco-Retox, baik dari segi bahan maupun perangkat. Kami juga ingin mengembangkan alat tersebut menuju skala industri yang lebih besar. Untuk mencapai arah itu, pengembangan dan pengujian lanjutan menjadi bagian penting dari perjalanan karya kami,” ujarnya.

Selain Eco-Retox, kompetisi yang diikuti mahasiswa dari 8 kampus tersebut juga menghadirkan sejumlah inovasi lingkungan. UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi memperkenalkan Ecopalm Roster, yakni pemanfaatan limbah cangkang kelapa sawit menjadi roster ramah lingkungan.

Sementara itu, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengembangkan Granobara, granul berbahan limbah nasi dan tulang untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Inovasi tersebut mengangkat prinsip anti-israf atau menghindari pemborosan.

Inovasi pengelolaan limbah dapur juga ditampilkan UIN Ar-Raniry Banda Aceh melalui Maza Tech. Karya ini mengintegrasikan alat penangkap lemak dengan produksi sabun cuci piring berbahan senduduk untuk membantu mengurangi pencemaran lingkungan.

Dari sisi teknologi digital, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghadirkan Miu-Connect, platform kolaboratif yang memanfaatkan timbangan sampah pintar berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendukung ekonomi sirkular di lingkungan pesantren. Adapun UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menawarkan Berkasih Smart, sistem pengelolaan sampah terintegrasi berbasis kecerdasan buatan.

Dua inovasi lainnya berfokus pada pengelolaan air di lingkungan masjid. UIN Raden Mas Said Surakarta memperkenalkan Eco-Wudhu Governance, model tata kelola air bekas wudhu berbasis fiqh al-bi’ah melalui audit pemanfaatan dan penentuan prioritas penggunaan air.

Sedangkan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menghadirkan Smart Eco-Masjid. Konsep tersebut menggabungkan kecerdasan buatan dan Internet of Things (AIoT), akuaponik, serta gamifikasi sebagai laboratorium hidup ekoteologi untuk mendukung konservasi air dan ekonomi sirkular.(dar)

A
AdminEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update