Sabtu, 29 Agt 2026 NasionalInternasionalEkonomi & BisnisMegapolitanGaya Hidup
Beranda › Megapolitan
Megapolitan

Gubernur Pramono Anung Melayat Korban Kericuhan Pejompongan, Bungkam Saat Ditanya Media

✍️ Admin 🕒 29 Aug 2026 👁️ 2x dibaca
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melayat ke rumah duka korban kericuhan di Pejompongan, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026).
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melayat ke rumah duka korban kericuhan di Pejompongan, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026). Foto: Dokumentasi Pribadi

VISIONESIA.COM - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melayat ke rumah duka Bambang Setiawan (59), korban meninggal dunia dalam kericuhan di Pejompongan, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026).

Pramono yang mengenakan kemeja lengan panjang dan peci warna hitam tiba di rumah duka itu sekira pukul 18.10 WIB. Ia kemudian berbincang dengan keluarga korban selama 30 menit. 

Setelah menemui keluarga korban meninggal kericuhan, ia hanya menyapa warga Pejompongan yang berada di lokasi, namun enggan memberikan keterangan kepada awak media.

Pramono hanya mengangkat kedua tangannya seraya bersedekap. Ia terus berjalan hingga memasuki kendaraan dinas yang menunggu di depan gang rumah korban meninggal kericuhan.

Ketua RT 02 RW 06 Benhil Aban Sobandi mengatakan, kericuhan pecah kemarin malam sekira pukul 21.00 hingga 22.00 WIB. Warga yang menjadi korban hanya berada di sekitar lokasi untuk mengamankan wilayah tersebut.

Korban yang meninggal dunia dikeroyok oleh kelompok orang tidak dikenal saat kericuhan terjadi di Pejompongan kemarin malam. Mereka menangkap siapapun yang ditemui di lokasi tanpa bertanya terlebih dahulu.

"Main comot saja yang dapat siapa aja. Padahal itu enggak ikutan demo. Warga sini enggak ada yang ikut-ikutan demo. Yang satu lagi main HP langsung dicomot," ungkap Aban terpisah di kawasan Pejompongan, siang tadi.

Kelompok orang tidak dikenal itu sempat masuk ke area pemukiman warga. Mereka bergerak dan menyisir lokasi dari arah flyover. Bahkan, warga tidak memberikan perlawanan saat terjadi penyisiran karena mengira kelompok berpakaian bebas tersebut merupakan anggota Polri.

"Warga itu pertama awalan perkiraan itu polisi, jadi enggak berani melawan. Dikiranya 'Oh Intel, Intel'. Tapi warga pada ngumpul menyelamatkan diri. Kalau tahu itu ormas, pasti pada ngelawan lah warga," jelas Aban.(dar)

A
AdminEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update