Selasa, 03 Nov 2026 NasionalInternasionalEkonomi & BisnisMegapolitanGaya Hidup
Beranda › Ekonomi & Bisnis
Ekonomi & Bisnis

Harga Emas Berpeluang Koreksi, Aksi Agresif Bank Sentral Global Jadi Penopang Pasar

✍️ Admin 🕒 28 Sep 2026 👁️ 8x dibaca
Ilustrasi emas batangan Antam. Memasuki akhir September 2026, harga emas logam mulia masih bergerak fluktuatif di tengah dinamika pasar global dan aksi pembelian bank sentral.
Ilustrasi emas batangan Antam. Memasuki akhir September 2026, harga emas logam mulia masih bergerak fluktuatif di tengah dinamika pasar global dan aksi pembelian bank sentral. Foto: Istimewa

VISIONESIA.COM - Harga emas logam mulia diperkirakan masih menghadapi pergerakan fluktuatif pada pekan terakhir September 2026. Gejolak pasar global hingga aksi pembelian emas oleh bank sentral sejumlah negara menjadi faktor yang terus membayangi pergerakan harga.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mencatat harga logam mulia pada Sabtu (26/9/2026) berada di level Rp2.653.000 per gram. Menurutnya, harga emas masih berpeluang mengalami koreksi terbatas pada perdagangan pekan depan.

Jika tekanan jual berlanjut, harga logam mulia diperkirakan terkoreksi sekitar Rp10 ribu menuju Rp2.643.000 per gram.

"Jadi untuk logam mulia, dalam perdagangan pekan depan, kemungkinan besar range-nya itu di Rp2.520.000 per gram sampai di Rp2.720.000 per gram,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima wartawan, Senin (28/9/2026).

Untuk emas dunia, Ibrahim memproyeksikan level support berada di kisaran Rp3.948.000 per troy ounce. Sementara resistance diperkirakan berada di posisi Rp4.654.000 per troy ounce.

Menariknya, koreksi harga emas justru dapat menjadi peluang bagi bank sentral global untuk memperbesar kepemilikan logam mulia. Harga yang lebih rendah dimanfaatkan untuk melakukan diversifikasi cadangan devisa, termasuk dengan mengalihkan sebagian aset berbasis dolar AS ke emas.

“Karena dengan harga yang relatif lebih murah ini akan diuntungkan dari selisih harga. Nah di sini kita melihat bahwa yang aktif dalam melakukan pembelian ini adalah salah satunya Bank Sentral China,” jelasnya.

Ibrahim menyebut Bank Sentral China menjadi salah satu otoritas moneter yang aktif membeli emas sepanjang 2026. Aksi pembelian disebut konsisten sejak awal tahun hingga Juli, sedangkan perkembangan akumulasi pada Agustus dan September masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Pada Agustus, akumulasi pembelian emas oleh Bank Sentral China dilaporkan meningkat sekitar 20 ton dibandingkan bulan sebelumnya.

“Nah ada kemungkinan besar bahwa dengan menurunnya harga emas dunia,” ungkap Ibrahim.

China bukan satu-satunya negara yang menambah cadangan emas. Bank Sentral Polandia juga tercatat aktif melakukan pembelian. Tingginya permintaan dari bank sentral global dinilai dapat menjadi bantalan yang menahan tekanan penurunan harga emas ketika terjadi koreksi teknis.

"Permintaan untuk harga emas dunia maupun logam mulia dalam kondisi harga rendah ini dimanfaatkan oleh bank sentral global maupun perusahaan-perusahaan besar untuk melakukan pembelian guna mengganti cadangan devisanya dari dolar ke emas," tambahnya.(dar)

A
AdminEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update