Minggu, 08 Nov 2026 NasionalInternasionalEkonomi & BisnisMegapolitanGaya Hidup
Beranda › Ekonomi & Bisnis
Ekonomi & Bisnis

Lewat ADIPEC 2026, Indonesia Perkuat Diplomasi dan Gaet Investasi Hulu Migas Global

✍️ Admin 🕒 07 Nov 2026 👁️ 4x dibaca
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto (kanan) menjadi pembicara dalam ajang ADIPEC 2026 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto (kanan) menjadi pembicara dalam ajang ADIPEC 2026 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Foto: Dokumen SKK Migas

VISIONESIA.COM - Indonesia memanfaatkan ajang Abu Dhabi International Petroleum Exhibition and Conference (ADIPEC) 2026 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, sebagai panggung untuk memperkuat diplomasi energi sekaligus memburu investasi baru di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas). Di tengah meningkatnya kebutuhan energi domestik, Indonesia menawarkan potensi sumber daya migas yang menjanjikan kepada investor global.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto, mengatakan Indonesia memiliki kekayaan minyak dan gas bumi yang masih terbuka luas untuk dieksplorasi. Potensi tersebut menjadi daya tarik investasi jangka panjang, terlebih kebutuhan energi nasional terus meningkat.

“Untuk dapat memanfaatkan potensi ini, sumber daya alam saja tidaklah cukup. Diperlukan investasi, teknologi canggih, keahlian teknis, serta kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pelaku industri, dan mitra internasional. Itulah sebabnya kita hadir di ADIPEC,” ujar Djoko, dikutip Jumat (6/11/2026).

“Melalui Indonesia Pavilion, kami tidak hanya ingin menyoroti potensi minyak dan gas yang Indonesia miliki, tetapi juga kapabilitas industri dan kesiapan pemerintah untuk bekerja sama dengan mitra global dalam mendukung kegiatan eksplorasi dan produksi,” sambungnya.

Keseriusan Indonesia menarik mitra internasional terlihat pada hari ketiga ADIPEC 2026, Rabu (4/11/2026). Indonesia Pavilion menghadirkan pemaparan Divisi Prospektivitas dan Divisi Eksplorasi SKK Migas mengenai peluang investasi serta potensi eksplorasi hulu migas nasional.

PT Medco E&P Indonesia, anak usaha MedcoEnergi, turut berbagi pengalaman mengenai perjalanan perusahaan mengembangkan wilayah kerja migas di Indonesia hingga memperluas bisnis ke Asia Tenggara dan Timur Tengah. Di Oman, MedcoEnergi kini mengoperasikan Karim Small Fields.

Agenda promosi tersebut diperkuat dengan serangkaian pertemuan bisnis strategis. SKK Migas menjajaki peluang kolaborasi dengan perusahaan rekayasa global JGC Holdings Corporation dan raksasa migas Italia, Eni. Sebelumnya, pertemuan tingkat tinggi juga dilakukan dengan INPEX, Samsung, serta sejumlah mitra bisnis internasional lainnya.

Pertemuan dengan Eni dan INPEX menjadi semakin strategis seiring bergeraknya sejumlah proyek gas berskala besar di Indonesia. Pada April 2026, Eni mengumumkan temuan gas raksasa melalui sumur Geliga-1 di Blok Ganal, Kalimantan Timur, dengan estimasi sumber daya in-place sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) gas dan 300 juta barel kondensat.

Sementara itu, proyek LNG Abadi yang dikembangkan INPEX di Blok Masela, Maluku, telah memasuki pembangunan fisik sejak Juli 2026. Proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 9,5 juta ton LNG per tahun serta memasok gas domestik sebesar 150 juta kaki kubik (MMSCFD) per hari.

Tak hanya memburu investasi, Indonesia juga mengambil bagian dalam pembahasan arah pasar energi dunia. Djoko tampil sebagai pembicara dalam sesi “Global LNG Market Trends and Outlook” pada Selasa (3/11/2026), bersama Sekretaris Jenderal Gas Exporting Countries Forum (GECF) Dr. Philip Mshelbila. Diskusi tersebut dimoderatori Editor Energi Financial Times Malcolm Moore.

Dalam forum itu, Djoko menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara kewajiban ekspor dan pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri. Menurutnya, fleksibilitas kontrak gas menjadi salah satu instrumen penting untuk mengantisipasi perubahan permintaan pasar.

“Kami menegaskan kepada pembeli gas internasional bahwa prioritas utama Indonesia adalah memenuhi kebutuhan domestik. Setelah kebutuhan domestik terpenuhi, baru kami dapat melakukan ekspor. Saat permintaan domestik meningkat, pemerintah Indonesia akan duduk bersama dengan para konsumen gas internasional dan berdiskusi untuk mencari solusi yang menguntungkan semua pihak,” jelas Djoko.

Keseriusan memperluas jejaring bisnis internasional juga ditandai dengan penandatanganan empat kerja sama strategis antara perusahaan nasional dan mitra global. Kolaborasi tersebut mencakup sektor jasa pengeboran, perkapalan, survei dan pemetaan, hingga teknologi chemical reservoir stimulation.

Partisipasi Indonesia di ADIPEC 2026 didukung 11 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan 13 Perusahaan Dalam Negeri (PDN). Kehadiran pemerintah, kontraktor migas, serta perusahaan nasional dalam satu paviliun menjadi etalase potensi sekaligus kemampuan industri hulu migas Indonesia di hadapan komunitas energi dunia.

Melalui ADIPEC 2026, Indonesia mengirimkan pesan bahwa peluang investasi migas nasional bukan sekadar potensi di atas kertas. Dengan dukungan teknologi, pendanaan, dan kemitraan global, peluang tersebut diharapkan dapat dipercepat menjadi proyek nyata yang memperkuat produksi migas, memenuhi kebutuhan energi domestik, sekaligus menjaga kontribusi Indonesia terhadap pasokan energi global.(dar)

A
AdminEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update