Sabtu, 07 Nov 2026 NasionalInternasionalEkonomi & BisnisMegapolitanGaya Hidup
Beranda › Ekonomi & Bisnis
Ekonomi & Bisnis

Listrik Masuk Sawah, Petani Cicau Bekasi Sukses Tingkatkan Panen Tiga Kali Setahun

✍️ Admin 🕒 07 Nov 2026 👁️ 2x dibaca
Ilustrasi - Petugas PLN bersama petani mengecek debit air dari pompa irigasi berbasis listrik sebagai bagian dari program Electrifying Agriculture. Inisiatif ini menjadi wujud pemanfaatan energi untuk memperkuat sektor pertanian menuju Energi Mandiri, Indonesia Berdaya.
Ilustrasi - Petugas PLN bersama petani mengecek debit air dari pompa irigasi berbasis listrik sebagai bagian dari program Electrifying Agriculture. Inisiatif ini menjadi wujud pemanfaatan energi untuk memperkuat sektor pertanian menuju Energi Mandiri, Indonesia Berdaya. Foto: Dokumen PLN

VISIONESIA.COM - Musim kemarau tidak lagi menjadi momok yang sepenuhnya menghantui Masum. Di tengah teriknya matahari yang menyinari Desa Cicau, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Berkah Sakabeh itu tetap memiliki harapan untuk menjaga sawahnya produktif. Air terus mengalir ke lahan pertanian, pompa bekerja tanpa harus menunggu ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), dan masa tanam yang sebelumnya terbatas kini semakin terbuka.

Perubahan tersebut bukan datang dengan sendirinya. Di balik aliran air yang menjaga tanaman tetap tumbuh, ada pemanfaatan energi listrik yang mengubah cara petani bekerja. Melalui program Electrifying Agriculture (EA), PT PLN (Persero) menghadirkan akses energi yang tidak hanya menyalakan mesin pengairan, tetapi juga membuka peluang peningkatan produktivitas dan pendapatan masyarakat desa.

Bagi Masum, listrik telah mengubah persoalan mendasar yang selama bertahun-tahun membayangi kegiatan pertanian: ketergantungan terhadap BBM dan ketidakpastian pengairan ketika musim kemarau tiba.

“Dulu kami harus membeli BBM untuk menjalankan pompa air dan tetap bergantung pada musim. Sekarang air tersedia kapan saja karena menggunakan listrik,” kata Masum.

Mengakhiri Ketergantungan, Membuka Peluang Panen

Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan yang lebih besar daripada sekadar pergantian sumber tenaga. Sebelumnya, petani harus mengalokasikan biaya untuk membeli bahan bakar sekaligus menghadapi keterbatasan waktu operasional pompa. Kini, dukungan listrik membuat proses pengairan lebih praktis, efisien, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan lahan.

PLN melalui Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah (UIT JBT) menghadirkan sambungan listrik baru berkapasitas 10.600 volt ampere (VA), terintegrasi dengan pompa air irigasi dan instalasi kelistrikan. Infrastruktur tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pengairan lahan pertanian sekitar 40 hektare yang berada di sekitar jalur transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kilovolt (kV) Cibatu–Deltamas.

Dampaknya terasa langsung pada pola produksi. Jika sebelumnya petani hanya mampu melakukan penanaman dua kali dalam setahun, ketersediaan air yang lebih terjamin memungkinkan intensitas tanam meningkat menjadi tiga kali. Artinya, pemanfaatan listrik turut memperbesar kesempatan petani menghasilkan panen sekaligus memperkuat sumber penghidupan keluarga.

“Biaya operasional jauh lebih hemat, pekerjaan lebih cepat, dan kami bisa menanam tiga kali dalam setahun. Pendapatan petani juga meningkat sekitar Rp12 juta setiap tahun. Perubahan ini sangat membantu kami dalam mengembangkan usaha tani,” jelas Masum.

Peningkatan pendapatan tersebut menjadi gambaran konkret bagaimana akses energi dapat memberikan dampak ekonomi hingga tingkat rumah tangga. Listrik tidak lagi dipandang sebatas kebutuhan konsumsi, melainkan telah menjadi salah satu faktor produksi yang menentukan keberlanjutan usaha pertanian.

Elektrifikasi Menjangkau Hulu hingga Hilir

Namun, intervensi PLN tidak berhenti pada penyediaan sambungan listrik dan pompa pengairan. Dukungan juga diarahkan untuk memperkuat rantai kegiatan pertanian dari hulu hingga hilir. Kelompok Tani Berkah Sakabeh mendapatkan dua unit traktor listrik, mesin perontok padi, mesin pemotong rumput listrik, serta saung petani yang dilengkapi panel listrik.

Selain peralatan, petani memperoleh bantuan bibit padi dan cabai serta pelatihan pengolahan hasil panen dan pemasaran produk. Dukungan tersebut memperlihatkan pendekatan yang lebih menyeluruh: energi dimanfaatkan untuk membantu pengolahan lahan, pemeliharaan tanaman, proses panen, hingga pengembangan nilai tambah hasil pertanian.

Dengan demikian, manfaat elektrifikasi tidak hanya diukur dari tersedianya daya listrik, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memanfaatkan energi untuk mengembangkan kegiatan ekonomi secara berkelanjutan.

Catatan pemakaian listrik Kelompok Tani Berkah Sakabeh menunjukkan konsumsi mencapai 11.994 kilowatt hour (kWh) dalam setahun. Pada saat yang sama, penggunaan listrik turut mengurangi konsumsi BBM sekitar 2.560 liter per tahun. Angka tersebut memperlihatkan bahwa elektrifikasi pertanian berpotensi menghadirkan dua manfaat sekaligus, yakni efisiensi biaya operasional dan pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.

Dari Desa Cicau, Energi Produktif Tumbuh Nasional

Direktur Retail dan Niaga PLN, M. Fahrur Rozy, mengatakan pemanfaatan listrik pada sektor pertanian merupakan bukti bahwa energi dapat memberikan nilai tambah bagi kegiatan produktif masyarakat. Menurutnya, langkah tersebut juga sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Electrifying Agriculture merupakan salah satu upaya PLN untuk memperluas manfaat listrik bagi sektor produktif seperti pertanian dan juga mendukung program ketahanan pangan dari Pemerintah,” ujar Rozy.

Ia menilai, perluasan akses energi produktif menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Sebab, ketika listrik mampu menekan biaya produksi, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat pendapatan petani, manfaat energi akan melampaui batas pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

“Ketika akses energi mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan memperkuat pendapatan petani, maka listrik menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kami berharap model ini dapat direplikasi di lebih banyak wilayah yang memiliki potensi pengembangan pertanian,” tuturnya.

Komitmen tersebut tercermin dari perkembangan pelanggan Electrifying Agriculture dan Electrifying Marine (EA-EM) secara nasional. Hingga Agustus 2026, realisasi pelanggan EA-EM PLN mencapai 450.654 pelanggan, dengan total daya terpasang sebesar 5.646 megavolt ampere (MVA) dan pemakaian listrik tercatat mencapai 4.970,98 gigawatt hour (GWh).

Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan listrik untuk mendukung sektor produktif, mulai dari pertanian hingga kelautan. Energi menjadi instrumen yang menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan peluang pengembangan ekonomi di berbagai daerah.

General Manager PLN UIT JBT, Amiruddin, menegaskan bahwa keberhasilan program elektrifikasi tidak semestinya berhenti pada penyerahan bantuan atau pembangunan infrastruktur. Hal yang lebih penting adalah memastikan sarana yang tersedia benar-benar dimanfaatkan dan mampu menciptakan perubahan jangka panjang bagi penerima manfaat.

“Bagi kami, keberhasilan program ini bukan hanya tentang apa yang diberikan hari ini, tetapi bagaimana manfaatnya dapat terus tumbuh dan dirasakan oleh para petani ke depan. Karena itu, kami ingin memastikan dukungan yang diberikan mampu mendorong kemandirian, meningkatkan produktivitas, dan membuka peluang bagi petani untuk mengembangkan usaha pertaniannya,” jelas Amiruddin.

Perspektif tersebut menempatkan program Electrifying Agriculture sebagai bagian dari transformasi pembangunan yang berorientasi pada kemandirian masyarakat. Ketika petani memiliki akses terhadap energi yang lebih efisien, mereka memperoleh ruang lebih besar untuk mengelola produksi, mengembangkan usaha, dan mengurangi kerentanan terhadap perubahan kondisi operasional.

Swasembada Energi, Agenda Besar Kemandirian Bangsa

Di tingkat nasional, upaya memperkuat kemandirian energi juga menjadi agenda strategis pemerintah. Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya Indonesia mencapai swasembada energi dengan mengoptimalkan kekuatan serta sumber daya yang tersedia di dalam negeri.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa kemandirian tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

“Kemandirian energi nasional harus dibangun dari kekuatan dan sumber daya yang dimiliki Indonesia sendiri. Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya mencapai swasembada energi dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri,” ujar Teddy.

Dalam agenda Dewan Energi Nasional (DEN), pemerintah membahas sejumlah langkah konkret untuk mempercepat kemandirian energi di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (17/9/2026). Mengutip Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Harian DEN Bahlil Lahadalia, Teddy menyampaikan bahwa pengembangan sumber energi dalam negeri mencakup kelapa sawit, jagung, singkong, tebu, batu bara, panas bumi, hingga energi surya.

Pemerintah juga mendorong pengembangan B50 dan E50 untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM. Di sektor energi terbarukan, percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt peak (GWp) dalam tiga tahun turut menjadi salah satu agenda. Peningkatan produksi minyak nasional melalui optimalisasi ladang dan sumur yang telah ada, percepatan eksplorasi, serta tindak lanjut rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) juga masuk dalam pembahasan.

Untuk memastikan seluruh agenda berjalan terarah, pemerintah akan menyusun peta jalan energi yang memuat target tahunan, kebutuhan investasi, jadwal pelaksanaan, hingga pembagian tugas implementasi. Dengan perencanaan tersebut, kemandirian energi diharapkan dapat dibangun melalui kebijakan yang terukur dan pemanfaatan potensi nasional secara optimal.

Teddy menyampaikan bahwa bagi Presiden Prabowo, kemandirian energi tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan energi nasional. Kemandirian energi juga memiliki arti strategis bagi kekuatan ekonomi dan posisi Indonesia dalam menghadapi dinamika global.

“Presiden menegaskan bahwa kemandirian energi bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, tetapi juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi dan memberikan ruang yang lebih besar bagi Indonesia untuk menentukan arah pembangunannya di tengah dinamika geopolitik global,” tutupnya.

Energi Mandiri, Indonesia Berdaya Dimulai dari Rakyat

Jika agenda nasional tersebut berbicara tentang besarnya potensi dan strategi energi Indonesia, kisah Masum memperlihatkan bagaimana manfaatnya dapat diwujudkan secara nyata di tingkat masyarakat. Keduanya bertemu pada satu kepentingan: mengoptimalkan sumber daya, memperkuat kemampuan produksi, dan mengurangi ketergantungan yang selama ini membatasi ruang gerak ekonomi.

Di Desa Cicau, kemandirian itu terlihat dari air yang tetap mengalir ketika kemarau datang, biaya operasional yang lebih terkendali, dan kesempatan menanam yang semakin terbuka. Listrik telah memberikan petani lebih dari sekadar kemudahan bekerja. Energi menghadirkan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Pada akhirnya, Energi Mandiri, Indonesia Berdaya bukan sekadar slogan pembangunan. Maknanya hadir ketika energi mampu mengubah keterbatasan menjadi kesempatan, ketika teknologi memperkuat usaha rakyat, dan ketika hasil pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat. Dari lahan pertanian di Desa Cicau, langkah menuju Indonesia yang mandiri dan berdaya menemukan bentuk paling nyata: energi yang menghidupkan produktivitas, menguatkan petani, dan menjaga masa depan pangan bangsa.(dar)

A
AdminEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update