Kamis, 05 Nov 2026 NasionalInternasionalEkonomi & BisnisMegapolitanGaya Hidup
Beranda › Olahraga
Olahraga

Pangsuma FC Desak Evaluasi Total Tata Kelola Liga Futsal Nasional

✍️ Admin 🕒 05 Nov 2026 👁️ 4x dibaca
Laga Pangsuma FC (kuning) melawan Kuda Laut Nusantara FC Jakarta pada regular season Indonesian Pro Futsal League 2025/2026 pekan-4 di Banten, akhir Oktober 2025 lalu.
Laga Pangsuma FC (kuning) melawan Kuda Laut Nusantara FC Jakarta pada regular season Indonesian Pro Futsal League 2025/2026 pekan-4 di Banten, akhir Oktober 2025 lalu. Foto: Istimewa

VISIONESIA.COM - Tata kelola kompetisi futsal nasional kembali mendapat sorotan. Kali ini, kritik datang dari Pangsuma FC yang menilai pengelolaan liga oleh Federasi Futsal Indonesia (FFI) bersama PT Kompetisi Futsal Indonesia (KFI) masih menyisakan sejumlah persoalan serius, mulai dari penunjukan tuan rumah, pembayaran subsidi klub, transparansi hak siar, hingga keberlangsungan peserta kompetisi.

Direktur Operasional Pangsuma FC, Muhammad Ilham, menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar catatan administratif, melainkan menyangkut profesionalisme penyelenggara dan masa depan ekosistem futsal nasional.

“Sebagai salah satu klub yang telah mengikuti kompetisi futsal nasional selama hampir sembilan tahun, Pangsuma FC menganggap sejumlah persoalan tersebut tidak bisa terus dibiarkan tanpa adanya penjelasan dan pertanggungjawaban dari pihak penyelenggara,” ujar Ilham dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).

Salah satu yang dipersoalkan adalah keputusan tidak menunjuk Pangsuma FC sebagai tuan rumah pada musim lalu. Untuk pertama kalinya dalam hampir sembilan tahun keikutsertaan di liga nasional, klub asal Kalimantan Barat tersebut tidak mendapatkan kesempatan menjadi penyelenggara pertandingan.

Menurut Ilham, penentuan tuan rumah seharusnya memiliki standar penilaian yang terukur, transparan, dan objektif. Tanpa mekanisme yang jelas, klub berpotensi kehilangan kepastian mengenai dasar keputusan yang diambil penyelenggara.

Tak hanya itu, persoalan pembayaran subsidi klub juga menjadi sorotan. Keterlambatan yang berulang disebut mengganggu perencanaan operasional, terutama dalam memenuhi kebutuhan pemain, pelatih, dan ofisial.

“Pangsuma FC menyayangkan kondisi ketika klub harus terlebih dahulu menyuarakan persoalan tersebut melalui media sosial hingga menjadi perhatian publik sebelum hak-hak yang tertunda akhirnya dibayarkan. Situasi ini dinilai tidak mencerminkan prinsip pengelolaan kompetisi profesional. Pemenuhan hak klub seharusnya menjadi bagian dari tanggung jawab penyelenggara yang dilaksanakan sesuai kesepakatan, tanpa harus menunggu tekanan publik,” jelas Ilham.

Sorotan berikutnya mengarah pada pengelolaan hak siar dan broadcasting. Pangsuma FC mempertanyakan minimnya informasi mengenai nilai kerja sama komersial, mekanisme pengelolaan, hingga pembagian manfaat ekonomi yang dihasilkan kompetisi.

Padahal, klub merupakan salah satu elemen utama pembentuk nilai komersial liga. Pertandingan, pemain, dan basis suporter menjadi bagian dari produk yang dipasarkan kepada mitra bisnis.

“Klub adalah bagian dari produk kompetisi. Pertandingan, pemain, suporter, dan seluruh aktivitas klub merupakan elemen yang membentuk nilai komersial liga. Karena itu, sudah sewajarnya klub mendapatkan transparansi mengenai pengelolaan hak siar, broadcasting, dan kerja sama komersial lainnya. Jangan sampai klub hanya diminta berpartisipasi, tetapi tidak mendapatkan informasi yang memadai mengenai bagaimana kompetisi ini dikelola secara bisnis,” terangnya.

Kekhawatiran Pangsuma FC semakin besar setelah tiga klub peserta mengalami kolaps pada musim lalu. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa persoalan keberlanjutan klub tidak bisa lagi dianggap sebagai urusan internal masing-masing peserta.

Ilham menilai FFI dan PT KFI perlu mengevaluasi sistem kompetisi secara menyeluruh. Sebab, keberhasilan liga tidak semestinya hanya diukur dari terlaksananya pertandingan dan tuntasnya kalender kompetisi, tetapi juga dari kemampuan menciptakan ekosistem yang sehat bagi seluruh klub.

“Pangsuma FC memahami bahwa kondisi finansial setiap klub juga dipengaruhi oleh kemampuan dan manajemen internal masing-masing. Namun, penyelenggara tetap memiliki tanggung jawab dalam membangun sistem kompetisi yang memberikan kepastian dan mendukung keberlangsungan klub peserta,” tutur Ilham.

Ia menegaskan, tumbangnya tiga klub harus menjadi bahan evaluasi bersama, bukan sekadar persoalan yang dibebankan kepada manajemen klub masing-masing.

“Atas berbagai persoalan tersebut, Pangsuma FC mendesak FFI dan PT KFI melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola liga futsal nasional yang dinilai amatir. Evaluasi tersebut diharapkan mencakup mekanisme penetapan tuan rumah, kepastian pembayaran subsidi, transparansi pengelolaan hak siar dan broadcasting, serta sistem perlindungan terhadap keberlangsungan klub peserta,” tegas Ilham.

Pangsuma FC juga meminta FFI dan PT KFI memberikan penjelasan terbuka atas berbagai persoalan musim lalu, termasuk penyebab tiga klub mengalami kolaps.

Bagi Pangsuma FC, kompetisi profesional bukan hanya soal kualitas pertandingan, jumlah peserta, atau kemeriahan penyelenggaraan. Lebih dari itu, profesionalisme harus dibuktikan melalui tata kelola organisasi yang akuntabel, kepastian pemenuhan hak klub, keterbukaan bisnis, serta jaminan keberlanjutan kompetisi.

“Pangsuma FC berharap FFI dan PT KFI tidak mengabaikan berbagai catatan tersebut dan menjadikannya sebagai momentum untuk melakukan pembenahan nyata terhadap tata kelola kompetisi futsal nasional,” tambahnya.(dar)

A
AdminEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update