Pilpres 2029 Diprediksi Lebih Sengit: Dari Skenario Gibran-Anies hingga “The Last Dance” Megawati
VISIONESIA.COM - Peta persaingan menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai memunculkan sejumlah nama besar. Pengamat politik Hendri Satrio bahkan melihat pertarungan lima tahun mendatang berpotensi jauh lebih ramai dan sulit ditebak dibandingkan Pilpres 2024. Gibran Rakabuming Raka disebut menjadi salah satu kandidat paling kuat apabila Prabowo Subianto kembali maju.
Namun, Gibran dipastikan tidak akan sendirian jika benar-benar masuk gelanggang. Hensa melihat sederet nama dari kalangan ketua umum partai hingga tokoh PDI Perjuangan berpeluang ikut memperebutkan kursi RI 1.
“Calon-calonnya banyak. Dan 2029 ini kayaknya enggak cuma Prabowo-Gibran lagi. Mas Gibran sendiri ya calon presiden terkuat, menurut saya, selain Prabowo. Belum lagi ketua-ketua partai yang lain. PDI-P juga tidak pernah kekurangan kader. Ada Mas Ganjar, Mbak Puan, dan yang paling kuat kan Mas Pramono. Dan bisa jadi 2029 adalah Megawati Soekarnoputri ‘The Last Dance’,” kata Hensa melalui gawai, Jumat (11/9/2026).
Di tengah deretan nama tersebut, satu figur yang dinilai belum bisa dicoret adalah Anies Baswedan. Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu memasukkan nama mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut dalam kalkulasi politik menuju Pilpres 2029, terutama karena Anies telah memiliki pengalaman sebagai kandidat capres pada kontestasi sebelumnya.
Menurut Hensa, pengalaman bertarung di Pilpres 2024 membuat Anies memiliki modal yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Basis massa yang pernah terbentuk dinilai menjadi alasan partai politik tetap akan menghitung kemungkinan menggandeng Anies.
“Yang paling santer kan (Partai) Gerakan Rakyat yang mengusung Anies Baswedan. Nah, ini tinggal dilihat (Partai) Gerakan Rakyat itu lolos verifikasi atau tidak,” jelas Hensa.
“Tapi kalau buat Mas Anies, pasti dia masuk dalam kalkulasi banyak politisi. Kenapa? Apa pun itu, politisi kan pasti mencari: punya basis massa atau tidak. Sebagai mantan calon presiden di 2024 lalu, pasti Anies punya basis massa. Dia akan dipakai atau tidak, itu yang dilihat,” sambungnya.
Yang menarik, Anies ternyata tidak hanya dilihat sebagai calon presiden. Hensa membuka kemungkinan namanya justru masuk dalam skenario politik Joko Widodo atau Jokowi jika Gibran diproyeksikan bertarung sebagai calon presiden pada 2029. Skenario tersebut membuat peta politik menjadi jauh lebih sulit ditebak.
Hensa menilai Jokowi bukan sosok yang terbiasa bertumpu pada satu rencana. Karena itu, meski duet Prabowo-Gibran menjadi konfigurasi yang paling sederhana untuk dibaca saat ini, berbagai alternatif tetap mungkin muncul. Salah satunya bahkan mempertemukan Gibran dengan Anies.
“Saya rasa juga Jokowi itu kan selalu punya banyak rencana. Enggak pernah dia punya satu rencana. Setelah itu mungkin bisa yang lain. Dia bisa lewat PSI. Mungkin dia juga bisa hitung Anies Baswedan sebagai salah satu kandidat mendampingi anaknya. Jadi, di politik itu, terutama setelah Mas Gibran jadi wapres, sulit kita mengatakan tidak mungkin,” tuturnya.
Meski skenario tersebut terdengar mengejutkan, Hensa mengingatkan bahwa belum ada konfigurasi yang benar-benar final. Pilpres 2029 masih cukup jauh sehingga pergeseran kepentingan, perubahan koalisi, serta komunikasi antarpartai masih dapat mengubah peta kandidat secara drastis sebelum masa pencalonan tiba.
Satu hal yang menurut Hensa masih menarik untuk dicermati adalah posisi Jokowi. Presiden ke-7 RI itu dinilai tetap memiliki pengaruh dalam percaturan politik nasional. Karena itu, setiap manuver dan komunikasi politik yang berkaitan dengan keluarganya diperkirakan masih akan menjadi bahan pembacaan elite politik menjelang Pilpres 2029.
“Jokowi itu orang yang sangat cerdas di politik. Dia paham strategi politik, dia paham momentum politik. Itu kelebihan seorang Jokowi. Kalau di sepak bola, orang hebat kan pernah kalah juga. Tapi saya setuju kalau Jokowi itu ‘the special one’. Dia sampai hari ini orang masih ngedeketin kok, masih jalan kok. Canggih lah dia,” tambahnya.(dar)
