Rupiah Menguat di Rp17.640-Rp17.700, Ini Faktor Pendorongnya
VISIONESIA.COM - Rupiah memasuki perdagangan awal pekan dengan modal positif. Setelah menguat 54 poin dan ditutup di level Rp17.694 per dolar AS pada Jumat (21/8/2026), mata uang Garuda diperkirakan kembali mendapat tenaga penguatan pada perdagangan Senin (24/8/2026).
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif, tetapi memiliki peluang ditutup lebih kuat.
“Untuk perdagangan awal pekan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp 17.640-Rp 17.700,” kata Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Senin (24/8/2026).
Salah satu penopangnya datang dari sektor perbankan. Pertumbuhan kredit nasional pada Juli 2026 mencapai 13,58 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dari 12,67 persen pada Juni 2026.
“Pertumbuhan tersebut menunjukkan penyaluran kredit masih tetap kuat meskipun dunia usaha cenderung mengurangi aktivitas peminjaman di tengah ketidakpastian ekonomi global,” ungkapnya.
Fondasi perbankan juga dinilai tetap kokoh. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) berada di level 23,70 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) masih rendah, yakni sekitar 2,09 persen secara bruto.
Menurut Ibrahim, kuatnya kredit tidak hanya mencerminkan meningkatnya kebutuhan pinjaman dunia usaha. Pergerakan tersebut turut ditopang oleh insentif likuiditas dan kebijakan makroprudensial Bank Indonesia (BI) yang masih akomodatif.
Namun, perjalanan rupiah belum sepenuhnya mulus. Salah satu risiko datang dari pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).
BI mencatat defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2026 mencapai US$12,5 miliar atau 3,3 persen terhadap PDB. Angka ini melonjak dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya US$3,6 miliar atau 1,0 persen terhadap PDB.
“Defisit transaksi berjalan yang lebih tinggi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor yang diprakirakan bersifat temporer. Salah satunya adalah meningkatnya defisit neraca perdagangan migas akibat kenaikan impor minyak seiring tingginya harga minyak dunia,” jelas Ibrahim.
Tekanan juga datang dari neraca perdagangan nonmigas yang mencatat surplus lebih rendah akibat meningkatnya impor untuk memenuhi kebutuhan aktivitas ekonomi domestik. Pada saat yang sama, defisit neraca pendapatan primer membesar seiring meningkatnya pembayaran pendapatan primer.
Di luar sektor eksternal, pasar juga perlu mencermati ancaman inflasi pangan akibat fenomena El Nino. Kekeringan berkepanjangan berpotensi menekan produksi pertanian, mengurangi pasokan beras dan komoditas pangan lainnya, sekaligus mendorong kenaikan harga.
“Pada akhirnya, tekanan inflasi berpotensi menggerus daya beli masyarakat serta memengaruhi tingkat kepercayaan konsumen,” tambahnya.
Dengan demikian, rupiah menghadapi dua arus sentimen yang berlawanan. Kinerja kredit dan kokohnya sektor perbankan menjadi tenaga penguat, sementara pelebaran defisit transaksi berjalan dan risiko inflasi pangan menjadi faktor yang dapat membatasi penguatan mata uang Garuda.(dar)
