Selasa, 04 Agt 2026 NasionalInternasionalEkonomi & BisnisMegapolitanGaya Hidup
Beranda › Nasional
Nasional

6.000 Bayi Meninggal Tiap Tahun Akibat Kelainan Jantung Bawaan, DPR Desak Layanan Operasi Dipercepat

✍️ Admin 🕒 04 Aug 2026 👁️ 1x dibaca
Ilustrasi bayi dengan mendapatkan layanan di Posyandu.
Ilustrasi bayi dengan mendapatkan layanan di Posyandu. Foto: istimewa

JAKARTA - Anggota DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menyoroti tingginya angka kematian bayi akibat kelainan jantung bawaan (PJB) di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 6.000 bayi meninggal setiap tahun karena belum mendapatkan tindakan operasi yang dibutuhkan.

"Data ini menjadi pengingat bahwa masih banyak anak Indonesia yang kehilangan kesempatan hidup akibat keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Ini adalah persoalan yang harus menjadi perhatian bersama," ujar Netty dalam keterangan, Selasa (4/8/2026).

Menurut Netty, dari sekitar 4,8 juta kelahiran setiap tahun, diperkirakan terdapat 48.000 bayi yang lahir dengan kelainan jantung bawaan. Sebanyak 12.000 di antaranya membutuhkan operasi segera, namun kapasitas layanan operasi jantung anak di Indonesia baru mampu menangani sekitar 6.000 kasus setiap tahun.

"Kesenjangan antara kebutuhan layanan dan kapasitas yang tersedia harus segera diperkecil melalui penguatan sistem pelayanan kesehatan," katanya.

Netty menegaskan, deteksi dini merupakan langkah penting untuk meningkatkan peluang bayi mendapatkan penanganan yang tepat sebelum kondisinya memburuk. Namun, ia mengingatkan bahwa program skrining tidak akan efektif jika tidak diiringi peningkatan kapasitas layanan rujukan dan operasi.

"Jangan sampai semakin banyak bayi yang terdeteksi, tetapi justru harus menunggu terlalu lama karena keterbatasan ruang operasi, tenaga medis, atau fasilitas yang tersedia. Skrining harus berjalan seiring dengan penguatan layanan kuratif," tegasnya.

Politikus Komisi IX DPR itu juga mendorong pemerintah mempercepat pemerataan layanan jantung anak di berbagai daerah. Upaya tersebut, kata dia, dapat dilakukan melalui penguatan rumah sakit rujukan, peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan, serta percepatan pendidikan dokter spesialis dan subspesialis, termasuk tenaga perfusionis dan perawat jantung.

"Kita membutuhkan strategi jangka panjang dalam membangun kapasitas layanan jantung anak. Investasi pada sumber daya manusia kesehatan sama pentingnya dengan pembangunan sarana dan prasarana," ujarnya.

Selain itu, Netty meminta pemerintah terus membenahi sistem rujukan agar bayi yang telah terdeteksi mengalami kelainan jantung bawaan dapat segera memperoleh penanganan di rumah sakit yang memiliki kemampuan melakukan operasi.

"Jangan sampai faktor jarak, keterbatasan fasilitas, atau panjangnya antrean operasi menjadi penyebab hilangnya kesempatan hidup seorang anak. Sistem rujukan harus responsif, cepat, dan merata di seluruh Indonesia," ujarnya.(dar)

A
AdminEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update