Minggu, 23 Agt 2026 NasionalInternasionalEkonomi & BisnisMegapolitanGaya Hidup
Beranda › Nasional
Nasional

Atasi Tantangan Pangan, BRIN Dorong Penerapan Smart Farming Berbasis AI dan IoT

✍️ Admin 🕒 23 Aug 2026 👁️ 2x dibaca
Ilustrasi petani di masa panen raya.
Ilustrasi petani di masa panen raya. Foto: Dok Kementan

VISIONESIA.COM - Artificial Intelligence (AI) di sektor pertanian mulai menjadi andalan untuk menjawab berbagai persoalan pangan nasional. Teknologi kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) dinilai mampu membuat pengelolaan pertanian lebih presisi, efisien, dan adaptif terhadap perubahan lingkungan.

Kepala Pusat Riset Mekatronika Cerdas BRIN, Prof. Yanuandri Putrasari, mengatakan perkembangan AI dan IoT membuka peluang besar bagi penerapan teknologi cerdas di sektor pertanian.

Menurut dia, sektor pertanian masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan lahan, perubahan iklim, efisiensi penggunaan sumber daya hingga persoalan regenerasi petani.

“Pemanfaatan AI dan IoT dalam smart farming menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem pertanian yang lebih cerdas dan adaptif,” ujar Yanuandri dalam keterangan, Minggu (23/8/2026).

Dia menjelaskan, integrasi sensor, otomasi, dan analisis data dapat membantu petani meningkatkan efisiensi sekaligus kualitas pengelolaan lahan pertanian.

Dalam penerapannya, IoT memungkinkan kondisi lahan, tanaman, maupun lingkungan dipantau secara real-time melalui jaringan sensor yang tersebar.

Sementara AI berperan mengolah data tersebut menjadi informasi dan rekomendasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. “AI dapat dimanfaatkan untuk prediksi hasil panen, deteksi hama dan penyakit, serta optimasi irigasi dan pemupukan,” jelasnya.

Ia menilai perpaduan AI dan IoT menjadi bagian penting dalam menggeser pola pertanian konvensional menuju precision agriculture atau pertanian presisi.

"Konsep ini memungkinkan pengelolaan usaha tani dilakukan berdasarkan kondisi aktual di lapangan sehingga lebih responsif terhadap perubahan lingkungan dan kebutuhan tanaman," terangnya.

Ia menyebut pengembangan smart farming juga membutuhkan kolaborasi lintas disiplin. Akademisi, peneliti, praktisi pertanian, mahasiswa, pengembang teknologi AI dan IoT, serta masyarakat didorong terlibat dalam pengembangan inovasi tersebut.

"Melalui penguatan kolaborasi, pemanfaatan teknologi AI dan IoT diharapkan tidak berhenti pada riset, tetapi dapat dikembangkan menjadi solusi yang aplikatif bagi sektor pertanian," ujarnya.(dar)

A
AdminEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update