Jumat, 06 Nov 2026 NasionalInternasionalEkonomi & BisnisMegapolitanGaya Hidup
Beranda › Ekonomi & Bisnis
Ekonomi & Bisnis

Berdayakan UMKM Binaan, Pertamina Dorong Dampak Berantai bagi Ekonomi Masyarakat

✍️ Admin 🕒 06 Nov 2026 👁️ 0x dibaca
Citra Blacu membuktikan bahwa kreativitas mengolah kain blacu dan limbah tekstil mampu melahirkan produk bernilai ekonomi sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Citra Blacu membuktikan bahwa kreativitas mengolah kain blacu dan limbah tekstil mampu melahirkan produk bernilai ekonomi sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat. Foto: Dokumen Pertamina

VISIONESIA.COM - Pertumbuhan UMKM tak selalu berhenti pada meningkatnya omzet atau meluasnya pasar. Di balik usaha yang berkembang, ada lapangan kerja yang tercipta, keterampilan masyarakat yang terasah, serta penghasilan keluarga yang ikut meningkat. Dampak berantai inilah yang ditunjukkan sejumlah UMKM binaan Pertamina dalam perjalanan mereka membangun usaha hingga menjangkau pasar yang lebih luas.

Salah satunya Citra Blacu, usaha kerajinan asal Jawa Tengah yang dirintis Retno sejak 2004. Berawal dari kain blacu yang diolah menjadi produk sederhana, bisnisnya kini berkembang memproduksi beragam fesyen, dekorasi rumah, hingga suvenir berbahan limbah kain.

Dukungan pembiayaan dan pemasaran melalui program kemitraan Pertamina menjadi salah satu pendorong perkembangan usaha tersebut. Retno bahkan berhasil membangun workshop sendiri yang kini berfungsi sebagai tempat produksi sekaligus ruang edukasi bagi pelajar dan masyarakat.

“Dari pinjaman itu saya bisa membangun workshop sendiri. Di sana juga bisa digunakan untuk pelatihan, bahkan pernah sampai 40 siswa ikut belajar,” ujarnya.

Kisah lain datang dari Artistica Jewelry, produsen perhiasan asal Surabaya yang telah mengekspor produknya ke lebih dari 10 negara. Meski sukses menembus pasar internasional, pendirinya, Stefanus, sempat menghadapi tantangan dalam memperkenalkan perhiasan perak kepada konsumen Indonesia.

Melalui pendampingan Pertamina, Artistica Jewelry mulai memahami karakter pasar domestik dan menemukan peluang baru di segmen cincin pernikahan berbahan perak untuk konsumen Muslim. Perusahaan ini bahkan menjadi produsen perhiasan pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

“Berkat bimbingan Pertamina, kami berani masuk ke pasar wedding ring dan mengurus sertifikasi halal. Itu menjadi salah satu cara kami membangun kepercayaan konsumen di Indonesia,” kata Stefanus.

Inovasi tersebut tidak hanya memperkuat kepercayaan konsumen, tetapi juga mendorong penjualan dan membuka ruang ekspansi bisnis.

Sementara itu, di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Lombok Mulya Craft membuktikan bahwa akses pasar dapat menjadi kunci kebangkitan usaha. Bisnis kerajinan mutiara dan suvenir khas Lombok yang dirintis Mulyadi pada 2010 itu sempat terpukul ketika pandemi menghentikan aktivitas pariwisata dan membuat pesanan merosot tajam.

Momentum kebangkitan datang pada 2021 setelah Lombok Mulya Craft bergabung sebagai UMKM binaan Pertamina. Pada tahun pertama pembinaan, usaha tersebut mendapat kepercayaan menyediakan suvenir untuk ajang World Superbike (WSBK) di Sirkuit Pertamina Mandalika. Pesanan itu kembali menggerakkan produksi sekaligus membuka pekerjaan bagi perajin lokal.

“Pesanan itu membuat kami kembali berproduksi. Dampaknya tidak hanya untuk usaha kami, tetapi juga bagi para perajin yang terlibat,” ungkap Mulyadi.

Kini, produk Lombok Mulya Craft telah menjangkau pasar luar negeri dan digunakan sebagai suvenir internasional. Perluasan pasar tersebut turut membuka peluang pendapatan bagi perajin serta peternak mutiara lokal yang terlibat dalam rantai produksinya.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan akses pasar masih menjadi salah satu tantangan utama bagi UMKM. Karena itu, Pertamina terus memperkuat pembinaan melalui promosi dan fasilitasi pameran agar produk lokal semakin dikenal konsumen maupun mitra bisnis.

“Dukungan berupa pelatihan, pendampingan, permodalan, dan akses pasar yang berkelanjutan menjadi bekal bagi para pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing, memperluas peluang usaha, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” tutur Baron dalam keterangannya, Kamis (5/11/2026).

Ketiga kisah tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pembinaan UMKM memiliki arti lebih luas daripada sekadar pertumbuhan bisnis. Ketika usaha lokal berkembang, manfaatnya turut dirasakan oleh pekerja, perajin, keluarga, hingga komunitas di sekitarnya. Melalui penguatan kapasitas dan perluasan akses pasar, Pertamina mendorong UMKM menjadi penggerak ekonomi kerakyatan sekaligus sumber kesejahteraan masyarakat.(dar)

A
AdminEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update