FHI 2026: Pemanfaatan AI Pangkas Beban Kerja Nakes dan Perluas Kapasitas Layanan Kesehatan
VISIONESIA.COM - Kecerdasan buatan (AI) mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan layanan kesehatan (Yankes) di Indonesia. Teknologi ini dinilai mampu mempercepat alur kerja, membantu diagnosis, hingga meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan (Nakes) dalam melayani pasien.
Temuan tersebut terungkap dalam Future Health Index (FHI) 2026. Laporan itu menunjukkan pemanfaatan AI di sektor kesehatan Indonesia berkembang pesat dibandingkan tahun sebelumnya.
Teknologi AI tak lagi sekadar dipandang sebagai alat untuk meningkatkan kualitas layanan, tetapi mulai membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu, memperkuat pengambilan keputusan, serta melayani lebih banyak pasien.
Presiden Direktur Philips Indonesia Astri Ramayanti Dharmawan mengatakan, perkembangan tersebut menunjukkan manfaat nyata AI dalam mendukung pekerjaan tenaga kesehatan.
Namun, Astri menegaskan penerapan AI harus dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan. AI perlu terhubung dengan alur kerja klinis dan didukung data kesehatan yang tepercaya serta peningkatan kapabilitas tenaga kesehatan.
"AI perlu terintegrasi dengan alur kerja klinis dan data kesehatan yang tepercaya, didukung oleh peningkatan kapabilitas tenaga kesehatan, serta tetap menempatkan penilaian dan akuntabilitas manusia sebagai inti dari setiap pelayanan kesehatan,” ujar Astri dalam keterangan, Senin (14/9/2026).
Ia menambahkan, di layanan kesehatan Indonesia menyebut AI meningkatkan efisiensi alur kerja. Selain itu, 87 persen mengaku lebih cepat mengakses hasil diagnosis dan 82 persen merasakan percepatan dalam pengambilan keputusan terkait diagnosis.
"AI juga dinilai mampu memperluas kapasitas pelayanan. Sebanyak 69 persen tenaga kesehatan menyatakan teknologi tersebut memungkinkan mereka menangani lebih banyak pasien, dengan peningkatan median empat pasien tambahan per minggu," katanya.
Dampaknya, dikatakan dia, turut dirasakan pada pengelolaan waktu dan beban kerja. Sebanyak 59 persen tenaga kesehatan melaporkan penghematan waktu sedikitnya 88 jam per tahun.
Sementara, lanjut dia, 67 persen menyebut AI memperbaiki keseimbangan kehidupan dan pekerjaan serta mengurangi stres. "Pembahasan AI kini tidak lagi sebatas apakah teknologi tersebut mampu meningkatkan layanan, tetapi bagaimana manfaatnya dapat diterapkan secara berkelanjutan," ujarnya.
Namun, masih ujar dia, mengadopsi AI masih menghadapi sejumlah tantangan. Sebanyak 55 persen tenaga kesehatan mengaku pelatihan AI masih sulit diperoleh, terbatas, atau belum merata. Bahkan, 58 persen menggunakan alat AI pribadi ketika fasilitas yang disediakan institusi belum memenuhi kebutuhan.
Dari sisi pengawasan, lanjut dia, 62 persen tenaga kesehatan menyebut belum tersedia proses yang jelas untuk memantau penggunaan AI. "Karena itu, integrasi dengan alur kerja klinis, data kesehatan yang tepercaya, serta tata kelola dan validasi menjadi kebutuhan penting," katanya.
Ia menambahkan, meski AI semakin berperan sebagai “rekan kerja”, kendali manusia tetap menjadi prinsip utama. Sebanyak 94 persen tenaga kesehatan menilai keterlibatan manusia tetap penting, sedangkan 91 persen pasien ingin diberi tahu jika AI digunakan dalam perawatan mereka.(dar)
