Sabtu, 29 Agt 2026 NasionalInternasionalEkonomi & BisnisMegapolitanGaya Hidup
Beranda › Ekonomi & Bisnis
Ekonomi & Bisnis

Melonjak 3 Kali Lipat, Ekspor Kakao Indonesia Tembus USD 3,6 Miliar Berkat Hilirisasi

✍️ Admin 🕒 29 Aug 2026 👁️ 1x dibaca
Ilustrasi petani Kakao
Ilustrasi petani Kakao Foto: Dok Kementan

VISIONESIA.COM - Komoditas kakao Indonesia makin menunjukkan taring di pasar global. Nilai ekspor kakao pada 2025 mencapai USD 3,6 miliar atau melonjak hampir tiga kali lipat dibandingkan 2021 yang hanya USD 1,21 miliar. 

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, persaingan pasar global saat ini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh harga. Konsumen dan pembeli internasional semakin menuntut produk yang memenuhi aspek keberlanjutan, keamanan pangan, hingga keandalan rantai pasok.

“Persaingan pasar global saat ini makin kompetitif. Pembeli tidak hanya melihat harga, tetapi juga menuntut keberlanjutan, keamanan pangan, dan keandalan rantai pasok,” ujar Budi dalam keterangan, Sabtu (29/8/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut membuat strategi ekspor Indonesia harus diarahkan pada peningkatan nilai tambah, pemenuhan standar internasional, diversifikasi pasar ekspor, serta optimalisasi berbagai perjanjian perdagangan internasional.

Ia menambahkan, kinerja ekspor kakao menjadi salah satu contoh keberhasilan strategi. Pada periode 2021–2025, permintaan dunia terhadap kakao Indonesia menunjukkan tren positif. Bahkan, ekspor kini semakin didominasi produk kakao olahan.

Dominasi produk olahan tersebut, menurutnya, dinilai menjadi sinyal positif dari kebijakan hilirisasi industri nasional. "Kakao tidak lagi sekadar dijual sebagai komoditas mentah, tetapi diolah sehingga mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar sebelum menembus pasar internasional," terangnya.

Tak hanya dari sisi hilirisasi, masih ujar dia, posisi Indonesia di pasar kakao premium juga semakin terbuka. Indonesia telah diakui International Cocoa Organization (ICCO) sebagai salah satu produsen kakao bercita rasa khas atau fine flavour cocoa.

"Ini menjadi modal penting untuk mengerek posisi kakao Indonesia di segmen premium. Peluang itu dapat diperkuat melalui inovasi produk, perlindungan indikasi geografis, serta penerapan praktik produksi yang berkelanjutan," ungkapnya.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus mendorong percepatan penandatanganan kerja sama perdagangan dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing sekaligus memperluas akses pasar bagi produk kakao dan kelapa sawit Indonesia.

Budi mengatakan, pelaku usaha dapat memanfaatkan jaringan 46 perwakilan perdagangan RI yang tersebar di 33 negara tujuan ekspor. Perwakilan tersebut dapat membantu mempromosikan produk Indonesia, memetakan peluang pasar, hingga mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra melalui business matching.

Diketahui, sepanjang Januari–Juli 2026, Kemendag telah memfasilitasi business matching yang melibatkan 1.021 pelaku usaha. Kegiatan tersebut menghasilkan potensi transaksi mencapai USD 275,61 juta.

Promosi produk nasional juga terus diperkuat melalui Trade Expo Indonesia (TEI). Pada penyelenggaraan TEI 2025, total transaksi yang berhasil dibukukan mencapai USD 22,8 miliar. Dari jumlah tersebut, produk UMKM menyumbang USD 474,7 juta.(dar)

A
AdminEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update