Fokus Diplomasi & Organisasi: Indonesia Ditunjuk Aklamasi Jadi Tuan Rumah dan Ketua ISC-3 Tahun 2027
VISIONESIA.COM - Gagasan Green Democracy (demokrasi hijau) yang digagas Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin mendapat sambutan positif dari para pimpinan parlemen dunia. Konsep ini mengedepankan pelestarian lingkungan dan keseimbangan ekologis dalam pembangunan berkelanjutan.
Tak hanya mendapat respons positif, Indonesia juga dipercaya secara aklamasi oleh lebih dari 40 ketua parlemen dan organisasi internasional menjadi ketua sidang sekaligus tuan rumah Inter-Parliamentary Speakers’ Conference (ISC) ke-3 yang akan digelar pada 2027 nanti.
Keputusan tersebut dihasilkan dalam ISC-2 yang berlangsung pada Jumat (28/8/2026) kemarin. Kepercayaan tersebut menjadi pengakuan terhadap kapasitas Indonesia dalam diplomasi internasional.
Para ketua parlemen berharap keketuaan Indonesia mampu menjadikan ISC sebagai forum yang lebih efektif untuk memperkuat kerja sama antarparlemen dunia sekaligus ikut meredakan instabilitas geopolitik.
Dukungan tersebut dituangkan dalam Deklarasi Phnom Penh. Dalam deklarasi itu, para peserta memberikan kepercayaan penuh kepada DPD RI sebagai penyelenggara ISC-3 dengan bekerja sama bersama Sekretariat Jenderal ISC di Jenewa.
Pesan Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin masuk dalam Deklarasi Phnom Penh. Salah satu poin yang ditekankan adalah pentingnya seluruh negara menjaga kewibawaan hukum internasional dan prinsip multilateralisme yang dinilai semakin sering dilanggar dan diabaikan dalam hubungan antarbangsa.
Sultan juga mendorong negara-negara peserta membangun persahabatan yang langgeng untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Tinggalkan adagium masa lalu bahwa kalau ingin damai, bersiaplah untuk berperang. Itu membahayakan. Karena ketidakadilan di mana pun mengancam keadilan di segala tempat,” ujar Sultan dalam keterangan, Minggu (30/8/2026).
Dia menegaskan, Indonesia memilih memperbanyak sahabat dibandingkan lawan dalam menghadapi perubahan dunia yang semakin kompleks.
“Indonesia meyakini bahwa seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Karena itu, perbanyaklah kawan, bukan lawan, terlebih lagi bagi negara-negara tetangga yang ditakdirkan untuk hidup berdampingan selama-lamanya,” katanya.
Menurut Sultan, perubahan tata dunia berlangsung sangat cepat dan belum tentu memiliki arah yang jelas. Kondisi itu menciptakan ketidakpastian yang dirasakan berbagai negara.
“Transformasi tanpa arah yang sangat cepat dalam tata dunia saat ini telah menciptakan ketidakpastian yang merisaukan semua negara,” ungkapnya.
Karena itu, dia mendorong parlemen negara-negara sahabat meningkatkan interaksi dan kerja sama. Pertukaran pengetahuan, keahlian, serta pengalaman dinilai penting untuk memperkuat fungsi parlemen dalam proses pengambilan keputusan.
Sultan juga mengusulkan pembentukan jaringan kelompok kerja antarparlemen negara-negara anggota ISC. Jaringan tersebut diharapkan menjadi wadah konkret untuk merealisasikan peningkatan kerja sama parlemen lintas negara dan kawasan.
Di tengah berbagai tantangan global, termasuk krisis energi dan ancaman terhadap lingkungan, Sultan turut menawarkan konsep Green Democracy. Gagasan tersebut diarahkan untuk mendukung pelestarian lingkungan sekaligus menjaga keseimbangan ekologis dalam strategi pembangunan berkelanjutan Indonesia.(dar)
